Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

*CINTA SEPANJANG JALAN KARAMA*

     Cerpen Safardy Bora terinspirasi dari lagu ciptaan  kanda Suparman Sopu "Bendi Sau Di Karama

    *CINTA SEPANJANG JALAN KARAMA*

     *CINTA SEPANJANG JALAN KARAMA* 

    Siang itu Pasar Tinambung mulai lengang. Matahari telah tinggi, para pedagang satu per satu menutup lapak. Bendi-bendi lain sudah pulang sejak tadi, menyisakan debu jalan yang perlahan turun kembali ke tanah. Tinggal satu bendi bertahan di bawah tiang bendera milik Toko Alif—seolah sengaja menunggu kisah terakhir hari itu.

    Di kursi depan duduk Pua Jernih, kusir tua yang tenang. Kudanya berdiri sabar, mengibas lalat dengan ekor yang malas.

    “Karama… terakhir ini,” katanya lembut.

    Seorang lelaki datang membawa tas kecil di pundaknya. Wajahnya legam oleh matahari rantau, tetapi matanya menyimpan rindu yang belum selesai. Haruna, baru semalam pulang dari Tawau. Kapal dari Nunukan membawanya ke Parepare, lalu perjalanan panjang menuntunnya kembali ke Mandar—tempat yang dulu ia tinggalkan tanpa janji kapan kembali.

    Ia naik ke bendi.

    Tak lama, seorang perempuan berjalan mendekat.

    Langkahnya pelan, hampir tak menimbulkan suara. Kulitnya putih bersih seperti kain baru ditenun. Wajahnya cantik tanpa dibuat-buat, teduh dan sederhana. Rambutnya panjang, hitam jatuh rapi di balik kerudung tipis yang sesekali digoyang angin laut. Di tangannya tergulung benang- benang sutra seputih kapas, lembut.

    Dialah Hamusiah, gadis panette' to Karama.

    Haruna sempat lupa menarik napas.

    Hamusiah duduk berhadapan dengannya. Bendi pun bergerak meninggalkan pasar.

    Roda kayu berderit pelan. Angin terik siang  masuk dari arah buttu ciping ke punggung Calo-Calo, membawa aroma bara api  pandai besi pua Hamal yang akrab di dada orang  Tinambung.

    Mereka diam beberapa saat.

    Haruna melirik.

    Hamusiah membalas lewat ekor matanya, lalu tersenyum simpul. Senyum itu ringan, tetapi entah mengapa terasa hangat sampai ke dada.

    “Kita pernah bertemu?” tanya Haruna.

    Hamusiah menggeleng lembut.

    “Belum… tapi rasanya tidak asing.”

    Haruna tertawa kecil.

    “Mungkin karena saya terlalu lama pergi.”

    “Dari rantau?”

    “Tawau. Hampir dua puluh tahun.”

    Hamusiah menatap permukaan uwai Mandar  yang memanjang di sisi kanan batu miana.

    “Pasti banyak yang berubah.”

    “Iya,” jawab Haruna pelan.

    “Saya seperti pulang ke tempat yang mengenal saya… tapi saya tidak lagi mengenalnya. Angin meniup rambut Hamusiah hingga beberapa helai jatuh ke pipinya. Haruna menahan keinginan untuk memperhatikan terlalu lama.

    “Kenapa pulang?” tanya Hamusiah.

    Haruna menatap jauh ke laut.

    “Karena lelah menjadi orang asing.”

    Hamusiah tersenyum.

    “Kadang pulang juga membuat kita merasa asing.”

    Mereka tertawa pelan, seperti dua orang lama yang baru saling menemukan.

    Saat memasuki tikungan kampung Ga'de, suara ombak semakin jelas. Laut berkilau di bawah matahari siang. Pua Jernih sengaja memperlambat langkah kuda.

    “Sudah menikah?” tanya Hamusiah tiba-tiba.

    Haruna menggeleng.

    “Yang pernah di hati… semua sudah bahagia.”

    Hamusiah menatapnya lama, matanya lembut namun jujur.

    “Jangan gelisah. Mandar ini masih menyimpan banyak hati yang baik.”

    Haruna membalas tatapan itu.

    “Termasuk panette cantik di depan saya?”

    Hamusiah tertawa kecil, pipinya memerah.

    “Itu tergantung… apakah lelaki itu tahu cara tinggal.”

    “Bagaimana caranya?”

    “Tidak pergi lagi.”

    Bendi melewati Ga’de, muara sungai bertemu laut. Angin terasa lebih lembut. Jarak di antara mereka seakan hilang tanpa disentuh.

    Haruna berkata pelan, hampir seperti rahasia,

    “Saya berharap perjalanan ini jangan cepat selesai.”

    Hamusiah menatapnya.

    “Saya juga… aneh ya.”

    Haruna menatapnya lebih lama.

    “Kalau hati itu duduk di depan saya sekarang?”

    Hamusiah menunduk, senyum malu muncul perlahan.

    “Bendi ini jadi saksi terlalu cepat.”

    Pua Jernih di depan terkekeh kecil tanpa menoleh.

    Di Marica, jalan semakin sunyi. Hanya suara roda kayu dan napas kuda menemani perjalanan. Laut di kanan tampak tenang, seperti ikut mendengarkan percakapan yang mulai hangat.

    “Saya tidak menyangka perjalanan pulang seindah ini,” kata Haruna.

    Hamusiah menoleh.

    “Karena kampungnya… atau karena bendinya?”

    Haruna tersenyum.

    “Mungkin karena penumpangnya.”

    Hamusiah tertawa kecil, suaranya ringan seperti bunyi gelang.

    “Kalau begitu,” katanya pelan,

    “jangan salahkan Karama kalau nanti engkau ingin tinggal.”

    Saat melewati Tangnga-tangnga, matahari mulai condong. Cahaya teriknya  jatuh di lengan  Hamusiah.  Haruna merasa perjalanan ini terlalu singkat bagi sesuatu yang baru saja tumbuh.

    “Saya takut,” kata Haruna tiba-tiba.

    “Takut apa?”

    “Takut perjalanan ini selesai… dan kita kembali jadi orang asing.”

    Hamusiah menatap lurus ke depan.

    “Kalau ingin tidak asing lagi… datanglah kembali.”

    “Sebagai apa?”

    Hamusiah tersenyum, kali ini penuh arti.

    “Sebagai orang yang ingin tinggal.”

    Tak  terasa Bendi memasuki Karama.

    Mereka turun bersamaan. Beberapa detik hanya angin laut yang berbicara.

    “Kalau mau sarung,” kata Hamusiah lembut,

    “datang saja ke rumah saya dibawah pohon bakar depan pertigaan jalan menuju Lamasariang.”

    Haruna tersenyum.

    “Saya datang bukan cuma membeli.”

    Hamusiah menahan napas.

    “Lalu?”

    “Mungkin… mencari alasan untuk tetap di Karama.”

    Hamusiah tersenyum, kali ini lebih dalam—senyum yang seperti menerima sesuatu yang sudah lama menunggu.

    Bendi Pua Jernih perlahan menjauh.

    Dan siang itu, di atas Bendi Sau di Karama, seorang perantau menemukan bahwa pulang ternyata bukan hanya tentang kampung h,alaman—

    tetapi tentang seseorang yang membuat hati ingin menetap selamanya.***

    Related Posts

    Post a Comment for " *CINTA SEPANJANG JALAN KARAMA* "