𝗦𝘆𝗲𝗸𝗵 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗶𝗺 𝗞𝗮𝗺𝗮𝗹𝘂𝗱𝗱𝗶𝗻: 𝗪𝗮𝗹𝗶𝘆𝘂𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗠𝗮𝗻𝗱𝗮𝗿

𝗦𝘆𝗲𝗸𝗵 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗶𝗺 𝗞𝗮𝗺𝗮𝗹𝘂𝗱𝗱𝗶𝗻: 𝗪𝗮𝗹𝗶𝘆𝘂𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗠𝗮𝗻𝗱𝗮𝗿
Di tanah Mandar, Sulawesi Barat, nama To Salama di Binuang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai ulama kharismatik yang membawa cahaya Islam pada masa ketika kerajaan-kerajaan lokal masih berada dalam persimpangan keyakinan. Sosok yang dikenal pula sebagai
Syekh Abdurrahim Kamaluddin ini diyakini hidup sekitar abad XV dan menjadi pelopor penyebaran Islam di wilayah Binuang.
Riwayatnya tidak hanya tercatat dalam tradisi lisan, tetapi juga disebut dalam naskah lontara Napo Mandar. Dalam catatan tersebut tertulis kalimat yang berarti: “Inilah surat Tuan di Binuang. Beliaulah yang mengislamkan kami.” Kisah perjuangannya kemudian dibukukan oleh sejarawan Mandar, M. T. Azis Syah pada tahun 1994.
𝘾𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖 𝙙𝙞 𝙏𝙚𝙣𝙜𝙖𝙝 𝙈𝙖𝙡𝙖𝙢: 𝘼𝙬𝙖𝙡 𝙈𝙪𝙡𝙖 𝙆𝙚𝙝𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖𝙣
Legenda bermula di kampung Penanian (Bate Tangnga). Pada suatu malam Jumat, Tomakaka Penanian menyaksikan cahaya terang turun dari langit. Setelah cahaya itu meredup, tampaklah seorang lelaki berjubah hitam dan bersurban hijau berdiri di hadapannya.
Lelaki misterius itu meminta izin menumpang tinggal. Sejak saat itu, kehidupan Tomakaka berubah. Kebunnya menjadi subur dan melimpah. Orang berjubah itu kerap terlihat beribadah dengan cara-cara yang tak lazim: duduk bertafakur di atas daun pisang, berjalan di atas air tanpa basah, bahkan tubuhnya melayang sejengkal saat tidur.
Kabar tentang keanehan itu sampai ke telinga Raja Binuang, Sipajollangi. Sang raja memanggilnya ke istana untuk menguji kesaktiannya. Namun peristiwa di istana justru menjadi titik balik yang memperlihatkan kewibawaan spiritual Syekh Abdurrahim Kamaluddin.
𝙐𝙟𝙞𝙖𝙣 𝙍𝙖𝙟𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙈𝙪𝙨𝙞𝙗𝙖𝙝 𝙉𝙚𝙜𝙚𝙧𝙞
Setelah pertemuan di istana, Syekh Abdurrahim memilih meninggalkan Binuang dan menuju Tammajarra (Tinambung) untuk menemui Raja Balanipa IV, Daetta Kenna I Pattang. Di sana, dakwah Islam diterima dengan baik.
Tak lama setelah kepergiannya, Negeri Binuang ditimpa musibah: wabah penyakit, kematian beruntun, dan penderitaan rakyat. Putri Raja Sipajollangi jatuh sakit dengan gejala aneh. Seorang ahli nujum menyarankan agar memanggil kembali tamu Tomakaka Penanian.
Utusan raja menempuh perjalanan enam hari tujuh malam menuju Tammajarra. Namun setibanya kembali di Binuang, mereka terkejut—Syekh Abdurrahim telah lebih dulu hadir, menyembuhkan sang putri, dan dinikahkan dengan putri raja, I We Tenri Pada. Peristiwa ini semakin mengukuhkan keyakinan masyarakat akan karamahnya.
𝙈𝙖𝙨𝙟𝙞𝙙 𝘽𝙞𝙣𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙣 “𝙈𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙆𝙖’𝙗𝙖𝙝”
Dalam perjalanan dakwahnya, Syekh Abdurrahim dibantu dua mubalig: Syech Al-Magribi dan Syech Al-Ma'ruf.
Syech Al-Ma’ruf dikenal dengan gelar Saiyye Losa setelah peristiwa pembangunan masjid pertama di Binuang. Ketika arah kiblat diragukan, ia melubangi dinding barat masjid dan meminta jamaah mengintip. Mereka berseru melihat Ka’bah. Sejak itu, kewibawaan spiritual para penyebar Islam di Binuang makin dihormati.
Sementara itu, Syech Al-Magribi—dikenal sebagai Saiyye Kitta—mencatat kisah lain ketika seorang ahli sihir yang hendak menantangnya justru bertobat setelah menyaksikan karamahnya. Dari peristiwa itu lahir sumur yang disebut Bujung Manurung, simbol perubahan dari kesombongan menjadi keimanan.
𝙄𝙨𝙡𝙖𝙢 𝙈𝙚𝙣𝙮𝙚𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞 𝙈𝙖𝙣𝙙𝙖𝙧
Dari Binuang, dakwah meluas ke Allu, Palili, Banggae, hingga Balanipa. Raja Balanipa yang pertama memeluk Islam adalah Daetta I Kanna Pattang (Daetta Tommuane). Di Pamboang, Islam diterima oleh Tomatindo di Bo’di. Di Banggae, Maraqdia Tondo (Tomatindo di Masigi) menjadi raja pertama yang memeluk Islam.
Perkembangan ini menandai transformasi besar dalam sejarah Mandar: Islam tidak sekadar menjadi agama pribadi, tetapi identitas kolektif masyarakat.
Syekh Abdurrahim juga mendirikan pesantren dan pusat pendidikan Islam di Pulau Tangnga-Tangnga, mendidik 40 pemuda sebagai kader dakwah. Dari sinilah Islam berakar kuat dalam struktur sosial Mandar.
𝙒𝙖𝙛𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙧𝙞𝙨𝙖𝙣 𝘼𝙗𝙖𝙙𝙞
Setelah sekitar 40 tahun berdakwah, Syekh Abdurrahim Kamaluddin wafat di Binuang. Legenda menyebutkan, keranda jenazahnya tidak dapat diangkat sebelum wasiatnya diumumkan: agar dimakamkan di salah satu pulau di Binuang.
Keranda itu kemudian bergerak sendiri menuju Pulau Karamasang. Berbagai keanehan menyertai peristiwa tersebut hingga akhirnya diyakini bahwa makamnya berada di kawasan Pulau Tangnga-Tangnga. Hingga kini, makam tersebut tetap diziarahi dan dihormati masyarakat.
𝘼𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙎𝙚𝙟𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙃𝙞𝙠𝙖𝙮𝙖𝙩
Kisah To Salama di Binuang memadukan sejarah, tradisi lisan, dan unsur karamah yang menjadi ciri hagiografi para wali. Terlepas dari sudut pandang historis maupun spiritual, satu hal yang pasti: beliau meninggalkan jejak besar dalam perjalanan Islam di Mandar.
Nama beliau tetap hidup dalam doa, ziarah, dan cerita yang diwariskan turun-temurun.
Wallahu a’lam bish-shawab.
" Ila hadrotin nabiyyil musthofa Muhammadin SAW, wa ala alihi wa sohbihi ajma'in. Tsuma ila ruuhi jamii'il auliya-i, wasy-syuhada-i, was-solihin, wa masyaikhina, wa khususon ila ruuhi AsSyaikh Abdurrahman Kamaluddin syai-un lillahi lahumul Fatihah"
Foto adalah hasil restorasi menggunakan teknologi AI yang berasal dari foto Al Mukarram yang beredar di media.
Post a Comment for "𝗦𝘆𝗲𝗸𝗵 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗶𝗺 𝗞𝗮𝗺𝗮𝗹𝘂𝗱𝗱𝗶𝗻: 𝗪𝗮𝗹𝗶𝘆𝘂𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗠𝗮𝗻𝗱𝗮𝗿"
Terimakasih. saran dan kritik. salam LED Sulbar
Post a Comment