๐ฆ๐๐ฒ๐ธ๐ต ๐๐ฏ๐ฑ๐๐ฟ๐ฟ๐ฎ๐ต๐ถ๐บ ๐๐ฎ๐บ๐ฎ๐น๐๐ฑ๐ฑ๐ถ๐ป: ๐ช๐ฎ๐น๐ถ๐๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ง๐ฎ๐ป๐ฎ๐ต ๐ ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ฟ

๐ฆ๐๐ฒ๐ธ๐ต ๐๐ฏ๐ฑ๐๐ฟ๐ฟ๐ฎ๐ต๐ถ๐บ ๐๐ฎ๐บ๐ฎ๐น๐๐ฑ๐ฑ๐ถ๐ป: ๐ช๐ฎ๐น๐ถ๐๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ง๐ฎ๐ป๐ฎ๐ต ๐ ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ฟ
Di tanah Mandar, Sulawesi Barat, nama To Salama di Binuang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai ulama kharismatik yang membawa cahaya Islam pada masa ketika kerajaan-kerajaan lokal masih berada dalam persimpangan keyakinan. Sosok yang dikenal pula sebagai
Syekh Abdurrahim Kamaluddin ini diyakini hidup sekitar abad XV dan menjadi pelopor penyebaran Islam di wilayah Binuang.
Riwayatnya tidak hanya tercatat dalam tradisi lisan, tetapi juga disebut dalam naskah lontara Napo Mandar. Dalam catatan tersebut tertulis kalimat yang berarti: “Inilah surat Tuan di Binuang. Beliaulah yang mengislamkan kami.” Kisah perjuangannya kemudian dibukukan oleh sejarawan Mandar, M. T. Azis Syah pada tahun 1994.
๐พ๐๐๐๐ฎ๐ ๐๐ ๐๐๐ฃ๐๐๐ ๐๐๐ก๐๐ข: ๐ผ๐ฌ๐๐ก ๐๐ช๐ก๐ ๐๐๐๐๐๐๐ง๐๐ฃ
Legenda bermula di kampung Penanian (Bate Tangnga). Pada suatu malam Jumat, Tomakaka Penanian menyaksikan cahaya terang turun dari langit. Setelah cahaya itu meredup, tampaklah seorang lelaki berjubah hitam dan bersurban hijau berdiri di hadapannya.
Lelaki misterius itu meminta izin menumpang tinggal. Sejak saat itu, kehidupan Tomakaka berubah. Kebunnya menjadi subur dan melimpah. Orang berjubah itu kerap terlihat beribadah dengan cara-cara yang tak lazim: duduk bertafakur di atas daun pisang, berjalan di atas air tanpa basah, bahkan tubuhnya melayang sejengkal saat tidur.
Kabar tentang keanehan itu sampai ke telinga Raja Binuang, Sipajollangi. Sang raja memanggilnya ke istana untuk menguji kesaktiannya. Namun peristiwa di istana justru menjadi titik balik yang memperlihatkan kewibawaan spiritual Syekh Abdurrahim Kamaluddin.
๐๐๐๐๐ฃ ๐๐๐๐ ๐๐๐ฃ ๐๐ช๐จ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ง๐
Setelah pertemuan di istana, Syekh Abdurrahim memilih meninggalkan Binuang dan menuju Tammajarra (Tinambung) untuk menemui Raja Balanipa IV, Daetta Kenna I Pattang. Di sana, dakwah Islam diterima dengan baik.
Tak lama setelah kepergiannya, Negeri Binuang ditimpa musibah: wabah penyakit, kematian beruntun, dan penderitaan rakyat. Putri Raja Sipajollangi jatuh sakit dengan gejala aneh. Seorang ahli nujum menyarankan agar memanggil kembali tamu Tomakaka Penanian.
Utusan raja menempuh perjalanan enam hari tujuh malam menuju Tammajarra. Namun setibanya kembali di Binuang, mereka terkejut—Syekh Abdurrahim telah lebih dulu hadir, menyembuhkan sang putri, dan dinikahkan dengan putri raja, I We Tenri Pada. Peristiwa ini semakin mengukuhkan keyakinan masyarakat akan karamahnya.
๐๐๐จ๐๐๐ ๐ฝ๐๐ฃ๐ช๐๐ฃ๐ ๐๐๐ฃ “๐๐๐ก๐๐๐๐ฉ ๐๐’๐๐๐”
Dalam perjalanan dakwahnya, Syekh Abdurrahim dibantu dua mubalig: Syech Al-Magribi dan Syech Al-Ma'ruf.
Syech Al-Ma’ruf dikenal dengan gelar Saiyye Losa setelah peristiwa pembangunan masjid pertama di Binuang. Ketika arah kiblat diragukan, ia melubangi dinding barat masjid dan meminta jamaah mengintip. Mereka berseru melihat Ka’bah. Sejak itu, kewibawaan spiritual para penyebar Islam di Binuang makin dihormati.
Sementara itu, Syech Al-Magribi—dikenal sebagai Saiyye Kitta—mencatat kisah lain ketika seorang ahli sihir yang hendak menantangnya justru bertobat setelah menyaksikan karamahnya. Dari peristiwa itu lahir sumur yang disebut Bujung Manurung, simbol perubahan dari kesombongan menjadi keimanan.
๐๐จ๐ก๐๐ข ๐๐๐ฃ๐ฎ๐๐๐๐ง ๐๐ ๐๐๐ฃ๐๐๐ง
Dari Binuang, dakwah meluas ke Allu, Palili, Banggae, hingga Balanipa. Raja Balanipa yang pertama memeluk Islam adalah Daetta I Kanna Pattang (Daetta Tommuane). Di Pamboang, Islam diterima oleh Tomatindo di Bo’di. Di Banggae, Maraqdia Tondo (Tomatindo di Masigi) menjadi raja pertama yang memeluk Islam.
Perkembangan ini menandai transformasi besar dalam sejarah Mandar: Islam tidak sekadar menjadi agama pribadi, tetapi identitas kolektif masyarakat.
Syekh Abdurrahim juga mendirikan pesantren dan pusat pendidikan Islam di Pulau Tangnga-Tangnga, mendidik 40 pemuda sebagai kader dakwah. Dari sinilah Islam berakar kuat dalam struktur sosial Mandar.
๐๐๐๐๐ฉ ๐๐๐ฃ ๐๐๐ง๐๐จ๐๐ฃ ๐ผ๐๐๐๐
Setelah sekitar 40 tahun berdakwah, Syekh Abdurrahim Kamaluddin wafat di Binuang. Legenda menyebutkan, keranda jenazahnya tidak dapat diangkat sebelum wasiatnya diumumkan: agar dimakamkan di salah satu pulau di Binuang.
Keranda itu kemudian bergerak sendiri menuju Pulau Karamasang. Berbagai keanehan menyertai peristiwa tersebut hingga akhirnya diyakini bahwa makamnya berada di kawasan Pulau Tangnga-Tangnga. Hingga kini, makam tersebut tetap diziarahi dan dihormati masyarakat.
๐ผ๐ฃ๐ฉ๐๐ง๐ ๐๐๐๐๐ง๐๐ ๐๐๐ฃ ๐๐๐ ๐๐ฎ๐๐ฉ
Kisah To Salama di Binuang memadukan sejarah, tradisi lisan, dan unsur karamah yang menjadi ciri hagiografi para wali. Terlepas dari sudut pandang historis maupun spiritual, satu hal yang pasti: beliau meninggalkan jejak besar dalam perjalanan Islam di Mandar.
Nama beliau tetap hidup dalam doa, ziarah, dan cerita yang diwariskan turun-temurun.
Wallahu a’lam bish-shawab.
" Ila hadrotin nabiyyil musthofa Muhammadin SAW, wa ala alihi wa sohbihi ajma'in. Tsuma ila ruuhi jamii'il auliya-i, wasy-syuhada-i, was-solihin, wa masyaikhina, wa khususon ila ruuhi AsSyaikh Abdurrahman Kamaluddin syai-un lillahi lahumul Fatihah"
Foto adalah hasil restorasi menggunakan teknologi AI yang berasal dari foto Al Mukarram yang beredar di media.
Post a Comment for "๐ฆ๐๐ฒ๐ธ๐ต ๐๐ฏ๐ฑ๐๐ฟ๐ฟ๐ฎ๐ต๐ถ๐บ ๐๐ฎ๐บ๐ฎ๐น๐๐ฑ๐ฑ๐ถ๐ป: ๐ช๐ฎ๐น๐ถ๐๐๐น๐น๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ง๐ฎ๐ป๐ฎ๐ต ๐ ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ฟ"
Terimakasih. saran dan kritik. salam LED Sulbar
Post a Comment